Ibrahim bin Ad’ham adalah seorang raja yang kaya raya, tapi ia congkak dan tidak percaya bahwa rizki itu semata-mata hanya pemberian Allah Swt.. Berbagai macam dalil ia lontarkan, diantaranya adalah, “Apabila seseorang tidak mau mencari nafkah, maka ia tidak akan bisa bertahan hidup, dia akan mati kelaparan, tidak mungkin makanan akan datang dengan sendirinya.”
Suatu hari Ibrahim bin Ad’ham berburu disertai dua orang pengawalnya, setelah separuh perjalanan mereka beristirahat di suatu tempat. Mereka membuka bekal yang dibawa untuk segera dimakan. Namun begitu bekal dibuka, datanglah seekor burung gagak dan menyambar sepotong rotinya lalu terbang lagi entah kemana. Ia sangat terkejut, baru kali ini menghadapi kejadian seperti ini. Yang membuatnya heran, marah dan tak habis pikir adalah mengapa burung gagak berani mengambil rotinya sedangkan itu bukan hak miliknya.
Ibrahim tidak tinggal diam, ia segera mengambil kudanya dan mengejar kemanapun burung gagak itu terbang. Burung gagak itu terbang naik turun gunung hingga akhirnya hilang dari pandangannya. Akan tetapi ia tidak putus asa begitu saja, ia naik ke tempat itu dan mendekatinya secara
diam-diam, akan tetapi malang nasibnya, begitu jarak dengan burung itu tinggal beberapa langkah lagi ternyata telah diketahui kehadirannya sehingga burung gagak itu terbang lagi entah kemana.
Ternyata di tempat yang disinggahi gagak tersebut Ibrahimseorang laki-laki yang tangan serta kakinya terikat hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Melihat keadaan yang menyedihkan itu Ibrahim turun dari kudanya dan menolong untuk melepas ikatannya. Setelah terlepas ikatannya selanjutnya ia menanyakan kejadian apakah yang telah menimpa pada dirinya sehingga terjadi peristiwa ini. Lelaki itu bangkit dan bercerita kepada Ibrahim, “Sebenarnya aku ini adalah seorang pedagang, aku telah dirampok, semua barang dagangan dan uangku dirampas. Untunglah aku tidak dibunuh, tapi aku dibuang ditempat yang tidak bisa dijangkau orang dan aku ditinggalkan dalam keadaan seperti yang engkau lihat. Sudah tujuh hari aku disini tak berdaya, jangankan untuk mencari makan atau minum, untuk menggerakkan tangan atau kaki saja aku tidak mampu. Namun selama ini burung gagak tadilah yang selalu datang kepadaku dan membawakan sesuatu untuk aku makan. Tidak hanya itu, gagak itu jugalah yang selalu menyuapiku hingga aku bertahan sampai hari ini. Segala puji bagi Allah yang tidak pernah membiarkan hamba-Nya ini kelaparan selama hidup di dunia.”
Mendengar semua cerita itu hati Ibrahim sangat tersentuh. Ia segera mengambil kudanya dan membawa laki-laki itu ke tempat semula ia beristirahat. Dalam perjalanan mereka berdua banyak bercerita tentang latar belakang masingmasing. Dari situlah Ibrahim mendapat petunjuk (hidayah).
yang 12 Sejak saat itulah Ibrahim bertaubat. Ia benarbenar sangat menyesal atas semua yang pernah diperbuatnya, atas semua ketidakpatuhannya kepada Allah Swt., sudah terlalu banyak maksiat lakukan dan telah banyak pula orang yang pernah ia dhalimi selama pemerintahannya.
Akhirnya semua budak-budak yang pernah ia dhalimi ia merdekakan, semua tanah yang menjadi miliknya ia wakafkan. Ia lepaskan pakaian kebesarannya sebagai seorang raja dan diganti dengan pakaian dari bulu-bulu yang kasar yang penuh dengan tambalan-tambalan. Lalu ia mengambil sebuah tongkat dan berniat melakukan perjalanan tanpa membawa bekal, tanpa pengawal ataupun kendaraan.
Mulai saat itulah Ibrahim bin Ad’ham menempuh jalan sufi, melakukan suatu perjalanan untuk mendapat keridhoan Allah Swt.. Tanpa lagi mengkhawatirkan keselamatan dirinya, ia melangkah dengan pasti, ia percaya dan yakin bahwa Allah Swt. akan melindunginya. Akhirnya setelah melalui berbagai macam rintangan dan ujian, sampai jugalah ia di kota Mekkah. Di sana ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama. Dengan ketekunan, kegigihan dan kesungguhan serta keikhlasannya dalam mencari ilmu, ia akhirnya menjadi seorang ulama besar yang dikenal banyak orang hingga saat ini.

Comments
Post a Comment